Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Tampilkan postingan dengan label DONGENG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DONGENG. Tampilkan semua postingan

Buaya Yang Serakah

Written By cindi on Kamis, 16 Juni 2011 | 02.01

Pada suatu hari di sebuah sungai, seekor buaya yang sedang mencari-cari mangsa. Sudah tiga hari ia tidak mencari mangsa. Sebelumnya ia mendapatkan seekor babi yang besar dan gemuk. Lalu tertidur pulas selama tiga hari karena kekenyangan. Moncong buaya sudah dibuka lebar di sungai menanti kalau ada ikan yang lewat. Tetapi sudah lama ia menunggu mangsanya tak kunjung datang. Tidak berapa lama muncul seekor ikan gurame di dekat moncongnya. "Hai buaya! Kelihatannya kau lapar sekali!" sapa ikan gurame persis di depan mulutnya yang ternganga.

"Kebetulan sekali kamu datang. Perutku lapar sekali karena belum diisi." ucap buaya dengan gembira. "Wahai buaya, kalau kau makan aku, pasti kau cepat lapar lagi. Bukankah dagingku tidak seberapa besar? Tetapi kalau kau ingin mendapat mangsa yang lebih besar lagi, diujung sana ada seekor itik yang sedang berenang. Tentu daging itik itu lebih besar dan lebih lezat daripada dagingku?" ujar ikan gurame memberi saran.

Buaya diam sejenak dan berpikir. Terbayanglah seekor itik yang besar dibandingkan dengan seekor ikan gurame. Buaya akhirnya mengikuti saran ikan gurame. Setibanya di dekat itik berada, ia langsung memburunya. Itik berlari ke darat untuk menghindari serangan buaya. Buaya terus mengejar, dan itik terdesak di sudut sebuah pohon. "Hati itik! Mau lari ke mana kamu?" gertak buaya.

"Jangan buaya! Janganlah kau mangsa aku, dagingku tidaklah seberapa besar. Kalau kau makan dagingku, pasti kau akan cepat lapar." seru itik memohon. "Tetapi kalau kau ingin mangsa yang lebih besar dari aku, aku dapat menunjukkan di mana tempatnya." "Tidak, aku sudah lapar sekali. Dagingmu kurasa cukup lumayan untuk mengisi perutku yang kosong ini." ujar buaya yang sudah merasa lapar sekali. "Tunggu, tunggu dulu! Kalau kau ingin mangsa yang besar, di hutan sebelah sana ada seekor kambing yang besar dan gemuk. Bukankah daging kambing lebih lezat jika dibandingkan dengan dagingku?" usul itik.

"Baiklah, kalau begitu tunjukkan aku di mana kambing itu berada sekarang. Sebab aku sudah tak kuat lagi menahan lapar." Buaya menyetujui usul itik, karena ingin mendapatkan mangsa yang lebih besar lagi. Itik berjalan menuju hutan dan buaya mengikuti dari belakang. Sampailah di hutan yang dimaksud. Di sana terlihat seekor kambing yang memakan rumput dan daun-daunan. Tubuh kambing itu lumayan besar dan kelihatan sehat dan segar. Perlahan-lahan ia mendekati kambing, sedangkan itik kembali ke sungai.

"Hai kambing! Sedang apa kau?" tanya buaya membuat kambing terkejut. "Aku sedang makan, memangnya ada apa?" jawab kambing sambil berhenti mengunyah rumput. "Aku juga mau makan." ucap buaya sambil membuka moncongnya lebar-lebar. "Kalau begitu mari kita makan bersama. Rumputnya masih banyak jangan khawatir. Ayo kita makan!" ajak kambing itu. "Bodoh! Aku tidak suka makan rumput!" sahut buaya geram. "Lantas, kamu biasanya memakan apa?" tanya kambing lagi. "Aku suka makan daging. Mungkin dagingmu juga enak kalau kusantap. Alangkah lezatnya dagingmu." kata buaya sambil membuka mulutnya.

"Tunggu dulu! Kalau kau ingin mangsa yang lebih besar dan lebih lezat, aku dapat menunjukkannya. Di hutan sebelah sana ada seekor gajah yang besar sekali. Bila kau dapat memangsangnya, kau pasti akan tahan beberapa hari tidak makan. Konon kabarnya daging gajah itu empuk dan sangat lezat rasanya." bujuk kambing.

Buaya menyetujui bujukan kambing, karena terbayang akan mendapat mangsa yang lebih besar serta dagingnya empuk dan lezat. "Baiklah, sekarang tunjukkan aku di mana tempatnya?" seru buaya. "Baik, akan aku tunjukkan tempatnya, tapi aku tidak dapat mengantarkanmu karena aku belum selesai makan." ucap kambing berdalih. "Ya, cepat tunjukkan saja arahnya."

"Di sebelah barat sana di sana ada telaga. Disitulah tempat gajah-gajah berkumpul." seru kambing. Buaya berlalu meninggalkan kambing untuk mencari gajah. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seekor kerbau. Lantas bertanya pada kerbau yang sedang berkubang itu. "Hai kerbau! Tahukah kau di mana tempatnya gajah berada? Kalau kau tahu tolong tunjukkan kepadaku," sapa buaya pada kerbau. "Ada apa kau mencarinya?" tanya kerbau.

"Aku ingin sekali memakan dagingnya. Kata kambing, daging gajah itu empuk dan lezat rasanya." Jawab buaya. "Baiklah kalau begitu, mari aku antarkan ke tempat gajah itu berada." Ajak kerbau. Tibalah mereka di dekat telaga. Ada beberapa ekor anak gajah yang sedang minum air telaga. Kerbau pergi setelah menunjukkan tempatnya.

"Benar kata kambing. Gajah itu memang besar-besar. Aku pasti akan kenyang apabila dapat memakan seekor saja. Aku dapat tidur beberapa hari kemudian." Seru buaya dengan perasaan gembira melihat mangsanya yang cukup besar-besar. Lalu didekatinya seekor anak gajah yang sedang minum itu.

"Hai gajah! cepat minumnya, karena aku akan segera memangsamu. Perutku sudah tak kuat lagi menahan lapar." ucap buaya kepada anak gajah. Anak gajah itu kaget mendengar ancaman buaya, lalu berteriak memanggil induknya. Tidak lama kemudian beberapa ekor gajah besar datang ke tempat itu. "Ada apa anakku?" Adakah yang mengganggumu?" tanya salah satu gajah yang paling besar. "Ya, aku diganggu oleh buaya itu. Katanya dia akan memangsaku." Seru anak gajah sambil menangis. "Apa? Kau ingin memangsa anakku?" kata gajah besar dengan marah. "Oh, rupanya ada yang lebih besar lagi. Kalau begitu kau saja yang kumangsa, supaya perutku kenyang!" seru buaya yang serakah itu. "Cobalah kalau dapat, wahai buaya yag serakah!"

Buaya lalu menyerang gajah besar. Moncongnya yang panjang dengan gigi-giginya yang tajam menyerang gajah besar. Gajah besar melompat dan menginjak perut buaya. Dengan belalainya yang panjang ia melilit moncong buaya itu. Ketika ekor buaya ingin menyambar tubuh gajah besar, kaki gajah besar menghadangnya lalu menginjaknya. Buaya jadi tak dapat berkutik, karena moncong dan ekornya tidak dapat bergerak. Sedang kaki-kaki gajah besar terus menginjak-injak tubuh buaya hingga tak bernapas lagi.



02.01 | 0 komentar

Anak Katak Yang Sombong dan Anak Lembu

Written By cindi on Sabtu, 04 Desember 2010 | 00.50

Di tengah padang rumput yang sangat luas, terdapat sebuah kolam yang dihuni oleh berpuluh-puluh katak. Diantara katak-katak tersebut ada satu anak katak yang bernama Kenthus, dia adalah anak katak yang paling besar dan kuat. Karena kelebihannya itu, Kenthus menjadi sangat sombong. Dia merasa kalau tidak ada anak katak lainnya yang dapat mengalahkannya. Sebenarnya kakak Kenthus sudah sering menasehati agar Kentus tidak bersikap sombong pada teman-temannya yang lain. Tetapi nasehat kakaknya tersebut tidak pernah dihiraukannya. Hal ini yang menyebabkan teman-temannya mulai menghindarinya, hingga Kenthus tidak mempunyai teman bermain lagi.

Pada suatu pagi, Kenthus berlatih melompat di padang rumput. Ketika itu juga ada seekor anak lembu yang sedang bermain di situ. Sesekali, anak lembu itu mendekati ibunya untuk menyedot susu. Anak lembu itu gembira sekali, dia berlari-lari sambil sesekali menyenggok rumput yang segar. Secara tidak sengaja, lidah anak sapi yang dijulurkan terkena tubuh si Kenthus.

"Huh, berani makhluk ini mengusikku," kata Kenthus dengan perasaan marah sambil coba menjauhi anak lembu itu. Sebenarnya anak lembu itu pula tidak berniat untuk mengganggunya. Kebetulan pergerakannya sama dengan Kenthus sehingga menyebabkan Khentus menjadi cemas dan melompat dengan segera untuk menyelamatkan diri.

Sambil terengah-engah, Kenthus sampai di tepi kolam. Melihat Kenthus yang kelihatan sangat capek, kawan-kawannya nampak sangat heran. "Hai Khentus, mengapa kamu terengah-engah, mukamu juga kelihatan sangat pucat sekali,” Tanya teman-temannya.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya cemas saja. Lihatlah di tengah padang rumput itu. Aku tidak tahu makhluk apa itu, tetapi makhluk itu sangat sombong. Makhluk itu hendak menelan aku." Kata Kenthus..

Kakaknya yang baru tiba di situ menjelaskan. " Makhluk itu anak lembu. sepengetahuan kakak, anak lembu tidak jahat. Mereka memang biasa dilepaskan di padang rumput ini setiap pagi."

"Tidak jahat? Kenapa kakak bisa bilang seperti itu? Saya hampir-hampir ditelannya tadi," kata Kenthus. "Ah, tidak mungkin. Lembu tidak makan katak atau ikan tetapi hanya rumput." Jelas kakaknya lagi.

"Saya tidak percaya kakak. Tadi, aku dikejarnnya dan hampir ditendang olehnya." Celah Kenthus. "Wahai kawan-kawan, aku sebenarnya bisa melawannya dengan mengembungkan diriku," Kata Kenthus dengan bangga.

"Lawan saja Kenthus! Kamu tentu menang," teriak anak-anak katak beramai-ramai.

"Sudahlah Kenthus. Kamu tidak akan dapat menandingi lembu itu. Perbuatan kamu berbahaya. Hentikan!" kata Kakak Kenthus berulang kali tetapi Kenthus tidak mempedulikan nasehat kakaknya. Kenthus terus mengembungkan dirinya, karena dorongan dari teman-temannya. Sebenarnya, mereka sengaja hendak memberi pelajaran pada Kenthus yang sombong itu.

"Sedikit lagi Kenthus. Teruskan!" Begitulah yang diteriakkan oleh kawan-kawan Kenthus. Setelah perut Kenthus menggembung dengan sangat besar, tiba-tiba Kenthus jatuh lemas. Perutnya sangat sakit dan perlahan-lahan dikempiskannya. Melihat keadaan adiknya yang lemas, kakak Kenthus lalu membantu.

Mujurlah Kenthus tidak apa-apa. Dia sembuh seperti sedia kala tetapi sikapnya telah banyak berubah. Dia malu dan kesal dengan sikapnya yang sombong.



Disadur dari berbagai sumber
00.50 | 0 komentar

Asal Mula Bunyi Burung Tekukur

Written By cindi on Sabtu, 27 November 2010 | 07.25

Dahulu, diawal mula penciptaan segala mahluk di dunia ini oleh Tuhan, burung tekukur dan beberapa jenis hewan lainnya, mendapat kehormatan untuk dimukimkan Tuhan di jazirah tanah Bugis. Sebuah wilayah subur yang terbentang luas di propinsi Sulawesi Selatan. Kala itu, Nabi Adam belum diturunkan ke bumi. Kala dimana hewan dan tetumbuhan satu sama lain, mampu bercakap-cakap layaknya manusia. Anehnya, hewan-hewan dimasa itu tidak seperti tampang & tabiat mereka dizaman sekarang. Misalnya ular, kepalanya ada dua. Musang kulitnya ditumbuhi bulu domba. Dan buaya-buaya justru takut air dan memilih hidup didarat.

Bahkan katak, terkenal dengan kebiasaannya membawa tempurung kelapa kemana-mana untuk menudunginya. Dan di zaman itu, kambing belum memiliki tanduk seperti kambing-kambing yang kita saksikan sekarang. Meski demikian, hewan-hewan hidup dengan damai. Suasana tenteram tanpa kejahatan. Mereka saling menghargai satu sama lain. Hidup tolong-menolong. Jika seekor hewan membutuhkan sesuatu, maka hewan lain dengan senang hati akan membantu memenuhi kebutuhannya itu. Keadaan itu berlangsung sedemikian lama. Hingga sampai suatu hari..

Disebuah padang sabana yang ditumbuhi rerumputan hijau, seluruh binatang yang bermukim di jazirah Bugis terlihat berkumpul. Ada kerbau, rusa, anoa, ular, kambing, kera, dan segala jenis burung, termasuk burung tekukur ikut hadir. Yah, hari ini mereka menggelar musyawarah. Suasana pun riuh rendah.

Musyawarah dipimpin oleh seekor kerbau putih. Kerbau adalah hewan paling tua diantara semua hewan. Begitu tuanya, sampai-sampai seluruh helai bulu pada tubuhnya telah menjadi uban.

“Kawan-kawan bangsa hewan, tolong dengarkan saya“ teriak kerbau. Suasana yang tadinya ribut tiba-tiba berubah hening. Semua hewan sangat menghormati kerbau. Dia selama ini terkenal sebagai gurunya para hewan. Kerbaulah yang mengajarkan kepada anak-anak hewan berbagai macam ilmu yang berguna buat kehidupan mereka.

“Hari ini, sengaja saya memanggil kawan-kawan semua untuk sesuatu hal yang sangat penting“ kerbau melanjutkan ucapannya. “karena jumlah hewan semakin banyak, maka sudah saatnya kita menentukan siapa yang akan kita angkat untuk jadi pemimpin bangsa hewan. Ini penting kawan-kawan. Supaya hidup kita menjadi lebih teratur“

Suasana kembali ribut. Seluruh hewan terkejut dengan usul kerbau. Bukankah selama ini kita tidak terbiasa hidup dibawah pimpinan seseorang? kita adalah mahluk Tuhan paling merdeka di alam jagat raya ini? Pikir mereka. Namun sebagian besar hewan setuju. Ini ide yang sangat cemerlang. Demikian pendapat mayoritas yang hadir.

Ditengah keriuhan, musang berbulu domba mengacungkan tangannya. Ia mohon izin untuk berbicara. Kerbau mempersilahkannya. "Saya setuju dengan kerbau. Sudah saatnya kita punya pemimpin “ujar musang. Burung Beo juga ikut mengacungkan tangan. Saat berbicara, ia juga mengatakan “saya setuju pendapat Musang“

Lalu satu persatu hewan-hewan lainnya turut mengutarakan pendapatnya. Maka, saat matahari tepat diatas kepala, seluruh hewan akhirnya bermufakat untuk segera menunjuk salah seorang diantara mereka untuk menjadi pemimpin bangsa hewan.

“Lalu siapa yang akan kita tunjuk sebagai pemimpin “Tanya Kuda tiba-tiba mengejutkan. Semua kembali berguman riuh mendengar perkataan kuda.

Yah ! lalu siapa yang akan mereka tunjuk menjadi pemimpin diantara mereka? Hal ini susah-susah gampang. Karena mereka belum pernah punya pengalaman memilih lansung pemimpinnya. Ini adalah peristiwa pertama bagi mereka. Pertanyaan Kuda kini memusingkan seluruh hewan yang hadir.

Tanpa ada yang memperhatikan, dari atas punggung kambing, burung tekukur tiba-tiba berubah wajah mendengar gagasan si kuda. Ia hampir saja melonjak kegirangan. Tekukur mendadak mendapat dorongan yang kuat dalam hatinya untuk menjadi pemimpin bangsa hewan. Karena selama ini, burung tekukur merasa dirinyaah yang paling hebat diantara semua jenis hewan.

Kawan, tidak seperti burung tekukur yang kita saksikan di zaman sekarang, burung tekukur di zaman itu memiliki tanduk pada kepalanya. Tanduk itu kuat, keras, runcing dan tajam. Meski selama ini tekukur terkenal tak pernah jahat pada sesamanya hewan, namun tanduk itu membuatnya disegani oleh semua jenis hewan. Jangan sampai bila tekukur marah, tentu dengan mudah tekukur akan mencederai mereka dengan tanduknya itu.

Tekukur sebenarnya diam-diam bangga dan tinggi hati dengan kehebatannya itu. Dan kalau sekarang hendak diadakan pemilihan pemimpin bangsa hewan, maka ia merasa dirinyalah yang paling cocok untuk posisi itu. Namun hatinya was-was. Bagaimana jika hewan-hewan itu tidak memilihnya sebagai pemimpin?

Secara sepihak, tekukur mulai berprasangka buruk kepada kerbau. Jangan-jangan (lagi) kerbau berinisiatif menggelar musyawarah ini karena dirinyalah yang ngotot menjadi pemimpin?

Burung tekukur tak mau kecolongan, maka bersuaralah dia, “Bagaimana kalau pemimpin bangsa hewan dari kami bangsa burung. Bukankah jenis dan jumlah kami lebih banyak dibanding kalian semua?“

Mendengar perkataan tekukur yang terkesan congkak itu, seluruh binatang terhenyak. Wajah-wajah mereka menunjukkan ketidaksenangan dan ketidaksetujuan. Perkataan tekukur telah menyinggung perasaan mereka. Mamun karena takut pada tekukur, mereka lebih baik memilih diam. Kecuali burung beo, ia berteriak ‘setuju! dengan usul tekukur....."

Ular berkepala dua yang berada disamping kerbau terlihat membisikkan sesuatu ketelinga kerbau. Kerbau mengangguk-angguk. Lalu berkata…

“Baiklah. Usul tekukur kita tampung. Tapi saya mengusulkan bagaimana kalau pemilihan kita tunda. Beri waktu kepada masing-masing dari kita untuk berpikir menentukan pilihan. Satu purnama lagi kedepan kita berkumpul disini untuk mengadakan pemilihan. Bagaimana?“ Sebelum hewan-hewan lainnya menyatakan sikap, burung beo mendahului menyatakan pendapatnya. Burung beo (lagi-lagi) menyatakan ‘setuju!‘ (juga) dengan usul kerbau itu.

Akhirnya seluruh hewan yang hadir sepakat dengan usul kerbau. Mereka pun kembali pulang kesarangnya masing-masing. Burung tekukur terpaksa ikut menyetujui. Meski dengan hati panas dan jengkel, utamanya pada kerbau.

Dalam perjalanan pulang, ular berkepala dua sengaja beriringan dengan tekukur. Dia tahu kalau tekukur marah dengan kejadian tadi. Dengan muka manis, ular berkepala dua mencoba menenangkan hati tekukur. “Sabarlah kawan. Sengaja aku arahkan kerbau untuk menunda pemilihan, agar kamu punya kesempatan untuk menggalang dukungan“ ujar ular. “Maksud kamu?“ Tanya tekukur balik. Ia curiga ular lah dalang dari penundaan tadi.

“Seandainya pemilihan lansung diadakan tadi, maka dapat kupastikan kerbau yang akan mendapat dukungan terbanyak“ urai ular. Benar juga. Batin tekukur dalam hati. “Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang?“ Tanya tekukur lagi. Ular menggoyang-goyangkan kepalanya berlagak seperti penari India.

“Mulai hari ini, kamu harus mendatangi semua rumah hewan, kawan. Minta mereka untuk memilihmu pada saat pemilihan nanti. Jika mereka menolak, saya pikir tanduk kamu itu akan membuat mereka tidak berani macam-macam“

“Betul ! betul sekali kata-katamu itu“ tekukur mengangguk-angguk. Ia senang karena telah mendapatkan solusi. Kalau perlu ia akan mengancam mereka dengan tanduknya. Nafsu untuk segera menjadi pemimpin bangsa hewan menari-nari dipelupuk matanya. Tekukur telah dibutakan oleh keinginan berkuasa. Ia tak lagi peduli dengan segala macam etika dan norma kebaikan bangsa hewan yang mereka anut selama ini.

Sejak itu, tekukur setiap hari mendatangi satu persatu rumah hewan. Bila ada hewan yang menolak, ia bahkan tidak segan-segan mengancam mereka dengan tanduknya yang runcing. Hewan-hewan ketakutan. Bahkan bangau, rusa dan kuda dibuat cedera pada punggungnya oleh tusukan tanduk tekukur, hanya karena ketiga binatang ini terang-terangan melawan dan menolak.

Suasana hutan yang damai pun berubah. Tekukur telah berubah menjadi momok menakutkan. Dalam hati, kerbau merasa bersalah telah mengajukan usul untuk memilih pemimpin. Ia tidak membayangkan kalau keinginan untuk menggelar pemilihan pemimpin bagi bangsa hewan akan berdampak teramat buruk bagi kehidupan mereka.

Hari berganti hari. Siang berganti malam. Tekukur tak henti menebar ancaman. Tekukur telah berubah menjadi sosok jahat. Menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Tak tahan dengan tingkah tekukur. Sekumpulan binatang berinisiatif datang menemui kerbau. Mereka menggelar rapat sembunyi-sembunyi dirumah kerbau.

“Ini tak bisa dibiarkan. Tekukur semakin zhalim dan semena-mena. Kita harus menghentikannya“ ujar kuda terengah-engah. Kepada seluruh yang hadir, tak lupa dia memperlihatkan cedera pada punggungnya. Bukti nyata kejahatan tekukur.

“Tapi bagaimana? Siapa yang berani melawan tanduknya“ keluh Rusa. Ia sendiri telah merasakan ketajaman tanduk tekukur dua hari lalu. Kerbau tampak berpikir dengan sangat serius . Otaknya berputar-putar mencari akal. Dan akhirnya.., “Aku punya akal!“ tanpa sadar ia berteriak karena girangnya.

“Kekuatan tekukur ada pada tanduknya. Jadi untuk melumpuhkannya, maka kita harus mengambil tanduk itu terlebih dahulu“ urai kerbau singkat. “Tapi siapa yang berani mencabut tanduk itu. Kecuali kalau tekukur sendiri yang rela melepasnya. Dan kurasa mustahil tekukur akan memberikan tanduknya begitu saja“ sungut kuda kembali. Punggungnya sakit, namun hatinya lebih sakit lagi.

“Aku...! aku yang akan memintanya!“ kambing mengajukan dirinya. Lalu kambing melanjutkan. “Tekukur sangat percaya padaku. Selama ini akulah yang selalu menyediakan punggungku untuk ia tenggeri. Aku akan merayunya sampai ia mau melepas tanduknya itu“. “Kamu berani?“ Tanya serempak seluruh hewan disitu seolah tak percaya.

“Serahkan padaku. Lagipula aku sudah bosan ditenggeri oleh tekukur. Kadang ia buang hajat seenaknya saja dipunggungku. Seolah aku ini jamban baginya“ gerutu kambing.

Keesokan harinya kambing berjalan-jalan ke sabana. Seperti biasa. Disiang hari adalah waktu biasanya tekukur mencari kambing untuk ia tenggeri. Tak sampai sepeminum teh, tekukur datang, lalu hinggap dipunggung kambing. Kambing merasa sekaranglah waktu yang tepat untuk melaksanakan rencananya. “Kawanku tekukur, tahukah kamu kalau selama ini aku bangga menjadi sahabatmu“ Kambing mulai merayu.

Tekukur menahan rasa senang atas pujian kambing kepadanya. “Mengapa begitu“ Tanya tekukur. “Karena kamu adalah hewan paling perkasa dinegeri kita. Kamu punya tanduk. Dan tanduk itu membuatmu takkan terkalahkan oleh siapapun“ kambing menambah rayuan gombalnya. “Betul katamu itu. Dengan tandukku ini, aku lah yang paling pantas menjadi pemimpin bangsa hewan“. “Betul kawan. Pada pemilihan nanti aku pastikan akan memberikan suaraku padamu“

Tekukur semakin mabuk pujian... “Tapi kawan…..” suara kambing pelan. “Kenapa?“ Tanya tekukur penasaran.

“Sebagai sahabat, bolehkah aku meminta sesuatu padamu? aku sudah lama memimpikan bisa merasakan bagaimana rasanya memakai tanduk perkasamu itu. Sudilah kiranya engkau meminjamkan tanduk itu padaku barang sekejap. Aku hanya ingin melihat penampilanku di air dengan tanduk itu“ mohon kambing dengan tatapan memelas.

Tekukur tampak bimbang. Ia khawatir melepas tanduknya itu. Namun pujian kambing dan wajahnya yang terlihat begitu polos cukup meyakinkan dimata tekukur. Belum lagi janji kambing untuk memberikan suara padanya di pemilihan kelak. Suara, itu yang penting.

“Hmmmmm, baiklah. Tapi cuma sekejap yah. Setelah bercermin disungai, kamu harus mengembalikan tandukku itu“ akhirnya tekukur pun luluh. Tekukur lalu melepas tanduknya. Kambing yang telah mengenakan tanduk tekukur pada kepalanya kemudian mohon izin kesungai untuk bercermin.

Namun, sampai malam menjelang kambing tak kunjung kembali. Tekukur mulai marah dan gelisah menunggu. Saat ia terbang berkeliling mencari tanduknya, seluruh hewan menolak memberitahukan keberadaan kambing. Mereka malah berbalik melawan. Mereka tak takut lagi pada tekukur. Mereka bahkan menertawakan tekukur yang tak punya tanduk lagi. Dengan perasaan campur aduk; malu, sedih, marah dan kecewa pada kambing, tekukur terbang.

Akhirnya tekukur menemukan kambing sementara asyik tidur dibawah pohon. Kedua tanduk tekukur kini melekat kuat dikepalanya Didorong rasa marah yang sangat, tekukur lansung menyerang si kambing dengan paruhnya, Kambing melonjak bangun dan balik menyerang tekukur dengan tanduk dikepalanya.

Tanpa tanduk dikepalanya, tekukur tak berdaya. Tekukur hanya mampu berteriak-teriak pilu dan menangis memohon agar kambing mengembalikan tanduknya.

“Tanrukkkuuu,….tanrukuuuuuuuuu,. tanrukkkuuuuuuu…” lolong tekukur. (dalam bahasa bugis, tanruk itu artinya tanduk). Kambing tidak mempedulikan rengekan tekukur. Malah ia balik mengejek tekukur.., “Weeheeheeek…weeeeeheeheeek…...”

Saat keduanya saling meneriaki, tiba-tiba, petir menggelegar diangkasa. Seluruh hewan panik dan berteriak-teriak saling memanggil satu sama lain dengan suara yang aneh. Sungguh, kini mereka tak lagi bisa bercakap seperti manusia. Harimau hanya bisa mengaum, kuda cuma meringkik, ular hanya sanggup mendesis.

Tahukah kamu kawan, saat itu juga, Tuhan telah mencabut kemampuan hewan untuk berbicara. Sebab kambing telah melanggar larangan untuk berbohong. Sebab kambing telah mengambil barang hewan lain dan tidak mengembalikannya. Maka dosa besar itu pun diganjar Tuhan dengan setimpal.

Sejak saat itu juga, hewan-hewan hanya mampu mengeluarkan satu bunyi khasnya masing-masing. Termasuk bunyi kambing yang diucapkannya terakhir kali yaitu ‘Weheeeheeeheekk..’ dan begitupun halnya dengan tekukur. Yah, dari sinilah awal mula bunyi tekukur yang khas dan terdengar merdu itu kawan.

"Tanrukkuuuuuu… tanrukkuuuuuuu….tanrukkuuuuuu…..!!!!!!!!!!!!!"



(Dongeng rakyat Sulawesi Selatan)
07.25 | 0 komentar

Welcome Guys

Categories